CHAKRA PUTRA MALAM || ACT 1 : PROLOGUE
Deville, 7 Januari 2092 ( ketika semua berawal )
Kemarin
aku menemukan Tuan Voorneman tergeletak di balkon. Raga yang lemas dan jiwa
yang sirna... Aku hanya melihat kekosongan di matanya, sebuah ekspresi terkejut
sebelum Bryan mengusap wajah ayahanda-nya. Kembali ke alam baka, tertidur
dengan tenang...
Dan
hari ini aku menemukan Ayahku sudah berada di dalam sebuah kotak. Sebuah kotak
yang akan menghantarkan ia ke ibuku. Dimana akhirnya ia akan berada di dimensi
yang sama dengan ibu. Rasanya ini begitu cepat, rasanya semuanya klise...
Disini hanya tinggal aku dan Saka...
Di
rumah ini rasanya terlalu luas jika hanya ada aku sendiri walaupun ada Saka, Bik
Dewi dan Pakdhe Rud...
Tok!
Tok!
“Masuklah,
tidak dikunci...”, Aji menutup buku jurnal lalu melepas kacamata bundar dari
wajahnya. Ia meletakkan kacamata berbingkai perak itu kedalam sakunya kemudian
menoleh kearah pintu.
Pakdhe
Rud masuk, ia tampak membawa jaket mantel berwarna hitam lalu meletakkan-nya di
gantungan yang terletak di sudut ruangan.
Aji
hanya menatap kosong seperti melamun, tangan kanan-nya masih memegang pena
sembari menggoyangkan pena itu dengan pelan.
“Aji,
aku tahu mungkin kau butuh waktu. Tapi kita hanya punya sepuluh menit sebelum
menghantarkan ayahmu. Aku harap kau tidak melewatkan itu dan Saka sudah
menunggu dibawah”, ucap Pakdhe Rud.
“Ya,
aku tahu. Beri aku waktu sebentar, aku akan berganti baju”, kata Aji. Ia bangkit
lalu membuka lemarinya yang penuh dengan setelan. Ia mengambil jas berwarna
hitam dan biru dongker setelah itu menyodorkan setelan itu persis ke depan
badan-nya secara bergantian.
“Aku
akan tunggu dibawah”, ucap Pakdhe.
Pakdhe
Rud segera keluar lalu menutup pintu kamar Aji. Ia turun kebawah tangga dengan
langkah pelan. Suasana rumah itu sekarang benar-benar remang hanya disinari
oleh cahaya dari lampu jingga seakan bangunan ini juga turut berduka atas
kepergian Galuh Chanandra, tuan rumah ini.
Sebuah
foto keluarga terpajang dengan besar di tembok. Pakdhe tentu melihatnya sebelum
ia melewati lukisan itu.
Galuh
dengan senyum penuh wibawa-nya, Amira dengan senyum-nya yang anggun, dan
sepasang bocah kembar yang duduk di tengah dengan tawa ceria. Pakdhe hanya bisa
mengusap air mata yang perlahan menetes setelah ia melihat foto itu. Betapa
bahagianya marga Chanandra ketika masih utuh.
“Simpan
air matamu untuk nanti, Pakdhe”
Pakdhe
terkejut, sesosok pria dengan tubuh jangkung dan tatapan dingin berdiri di
ujung tangga. Ia baru menyadari bahwa Saka sedari tadi memperhatikan dirinya.
Saka
menatap Pakdhe sambil menyodorkan sebuah kain putih, di ujung kain putih itu
terdapat logo marga Chanandra. Itu adalah kain khusus keluarga Chanandra.
“Ah,
aku baik-baik saja. Tidak perlu kain itu”, Pakdhe hanya tersenyum simpul
sembari mengusap air matanya menggunakan telapak tangan.
Saka
menghela nafas, ia kemudian mengalihkan pandangan kearah dapur. Disana ada Bik
Dewi yang tengah menangis dan sepertinya menghabiskan berlembar-lembar tisu
sampai berserakan di meja dapur.
Suara
tangisnya meraung-raung lalu ekspresi wajahnya terlihat sangat sedih.
“Setidaknya
kau tidak menangis seperti Bik Dewi. Astaga... kau lihat berapa banyak tissue
yang ia habiskan?”, Saka terkekeh kecil, “Mungkin setelah acara pemakaman, kita
perlu mampir ke Indoapril untuk beli tissue. Siapa tahu dia butuh lagi...”
“Ya
ampun Saka, kau masih bisa bercanda di situasi duka seperti ini...”, Pakdhe Rud
menggeleng-gelengkan kepala.
“Ah!
Maaf”, Saka menunduk, “Aku tak bermaksud...”
“Tidak,
maksudku itu mirip seperti ayahmu. Disaat yang genting ataupun krisis, Ia tak
pernah kehabisan lelucon. Selalu ada candaan sedikit walau...”, ucap Pakdhe.
“Walau bercandanya agak kelewatan yah?” ,
potong Saka sambil tersenyum kecut.
Pakdhe
Rud menghela nafas sembari menoleh kearah belakang. Ia mendapati suara langkah
kaki dari lantai atas, berasumsi bahwa itu suara langkah kaki Aji. Perlahan sebuah
siluet seorang pria membayang di tembok merah yang kertasnya mulai mengelupas.
“Saka...Saka...
Bercandamu selalu tak lihat waktu, dari dulu seperti itu”, sesosok pria
berjalan menuruni tangga sambil merapatkan mantel hitam tebal. Ia lalu membuka
kerah yang menutupi separuh wajahnya. Sebuah tahi lalat kecil termampang di
sudut kiri bibir. Benar saja, itu Aji.
Aji
melenggang melewati Saka dan Pakdhe, langkah kaki ia tujukan kearah Bik Dewi
yang masih menangis di dapur. Ia menggenggam tangan Bik Dewi kemudian duduk
disampingnya.
“Bik,
sudahlah. Sebaiknya kita bersiap berangkat”, ucap Aji.
Bik
Dewi mengangkat wajahnya. Terlihat dibawah matanya maskara yang ia kenakan sedikit
luntur sehingga meninggalkan noda hitam. Ia mengangguk dan berusaha menahan
tangisnya. Sementara Aji, ia merangkul Bik Dewi lalu membantunya bangkit.
“Aku
akan menyiapkan mobil”, ucap Saka setelah melihat Aji dan Bik Dewi berjalan
kearah mereka. Ia melangkah pergi dan lenyap dibalik pintu yang menghubungkan
antara rumah mereka dengan dunia luar.
***
Mobil
berjalan melewati jalanan kota Deville yang ramai riuh. Orang-orang di kiri
kanan memadati pinggiran jalan. Ada yang membawa karangan bunga, ada yang
memegang foto sang mendiang, dan ada yang sekedar melihat arak-arakan mobil.
Mobil polisi mengikuti di belakang dengan menyalakan lampu sirene tanpa bunyi,
mobil hitam milik para pejabat berada di sisi kiri dan kanan, motor petugas
polisi berada di paling depan, sedangkan mobil jenazah berada di tengah. Dan kita melihat sebuah mobil
Fortuner hitam yang dikendarai oleh keluarga Chanandra berada di barisan para
pejabat. Seakan mengamuflasekan diri ditengah mobil para petinggi itu.
Saka
melihat kearah jendela memperhatikan warga kota Deville. Dalam benaknya ia
bertanya-tanya, apakah mereka juga ikut berduka atas kepergian ayahnya atau
hanya sekedar mengucap belasungkawa untuk formalitas? Saka penuh dengan
sugesti.
Ia
melihat anak kecil digendong oleh orangtua-nya, remaja yang masih memakai
seragam sekolah, dan anak sekolah dasar yang bahkan masih memegang jajanan
cilok di tangan mereka. Uniknya, Saka juga menemukan ada pedagang yang masih
mencari kesempatan di tengah situasi ini dengan berdagang di sela-sela
kerumunan.
“Astaga,
lihat orang-orang itu. Disaat seperti ini masih sempat-sempatnya berdemo...” ,
ucap Aji geram sembari meremas-remas kemudi mobil. Matanya beberapa kali
melirik ke sisi kanan jalan.
Saka
mengalihkan pandangan, ia mengangkat kepala karena barisan orang di sisi
kanan-nya sedikit terhalang oleh deretan mobil lain.
Disana
tampak sekelompok orang dengan jaket tebal lusuh membawa baliho yang sepertinya
mereka tulis sendiri.
Siapa
orang-orang ini?
Perlahan
mereka melewati barisan orang itu. Saka menoleh, memperhatikan secara seksama
apa yang mereka tulis diatas papan yang mereka bawa.
BERI
KAMI BANTUAN !
GELANDANGAN
BUTUH TEMPAT TINGGAL !
BERI
KAMI UANG !
Saka
meringis, hanya tulisan klise yang dibuat para gelandangan untuk mengkritik
ayahnya.
“Tidak
tahu terimakasih, padahal ayahku sudah memberi subsidi besar terhadap kaum
mereka. Kemana uang yang ayahku berikan? Apakah hanya habis dipakai ngelinting
ganja?” ,batin Saka.
Ia
bersugesti begitu karena di mulut para gelandangan itu tampak memutih. Biasanya
bibir yang begitu dimiliki oleh para pengguna narkoba.
KEPALAMU
ADALAH HARTA KAMI, BOOYA!
Saka
terkejut, ia membelalakan mata ketika melihat salah satu papan yang bertuliskan
kata-kata itu. Sekelebat ia melihat wajah orang pembawa papan tadi. Orang itu
berambut gimbal dengan kulit hitam yang dekil, bermata bundar besar, dan alis
tebal. Ia tiba-tiba menggerakan jarinya
dan menempelkan ujung jari telunjuk-nya kearah pelipis. Kemudian ia bertingkah
layaknya tengah menembak dirinya sendiri dengan jari itu.
Apa-apaan?!
Saka
tanpa sadar menggebrak pintu mobil dengan tangan-nya.
“Hei!
Ada apa?” , ucap Aji dengan nada yang sedikit melengking.
Saka
memegangi kepalanya yang tidak pusing sambil menggeram menahan amarah, “ Tidak.
Lupakan. Fokus saja menyetir...”, ucapnya.
Aji
menghela nafas lalu menggelengkan kepala dengan pelan, “Jangan terpengaruh”.
“Aku
tahu”, jawab Saka sambil merilekskan tubuhnya. Ia memandang kearah langit yang
mendung.
Awan
hitam mulai terlihat dan kilatan petir nampak mencuat di sela-sela gerumbulan
awan itu. Gemuruh guntur samar terdengar, menandakan langit pun sepertinya
tengah sendu pagi ini.
“Aku
hanya ingin hari ini cepat berakhir...”, gumam Saka.
***
Ini
tidak pernah terlintas di benakku, tidak pernah pula suatu hari pun aku akan
membayangkan dia akan pergi dengan seperti ini. Aku tahu dia jarang
menginjakkan kakinya di rumah, aku tahu dia pergi sebelum aku terbangun dan
pulang saat aku tertidur atau bahkan tidak pulang sama sekali...
Tapi,
aku tidak mengharapkan dia berakhir dengan tragis. Setidaknya aku akan ikhlas
apabila itu adalah Aku yang menembak ayahandaku sendiri dengan tanganku, tapi
bila orang lain yang mengotori tangan-nya aku jadi penasaran... Apa motifnya...
“Aku
turut berduka...”
Aji
menoleh kearah belakang. Seorang wanita berkulit mocha dengan rambut ikal
terlihat membawa seikat anyelir putih. Ia tersenyum tipis kearahnya, berjalan
melewati Aji lalu meletakkan bunga itu diatas makam. Kemudian, ia berdiri di
depan Aji sembari menghela nafas dan melihat kearah langit.
“Bahkan
kurasa langit pun turut berduka atas kepergian ayahmu... Kau lihat sedari tadi
pagi mentari tak sekalipun nampak. Yang ada hanya langit mendung”, ucapnya.
Aji
mengenali wanita itu, ia adalah salah satu anggota aktif di perusahaan ayahnya.
Ia adalah wanita yang cerdas, Aji sering mendengar ayahnya berkata begitu.
“Yah,
tampaknya begitu”, Aji mengangguk. Ia masih mengunci pandangan kearah makam
Ayahnya yang penuh dengan bunga sebagai simbol duka.
Arnes
menunjuk Saka dengan sekelebat, “Saudaramu sangat mirip denganmu, bagai pinang
dibelah dua”, ucap Arnes.
Aji
mengalihkan pandangan-nya kearah Saka yang berada di seberang, tak jauh
darinya. Ia tampak tengah berbincang dengan seorang pria berumur. Seorang pria
dengan rambut putih yang terisisir rapi ke belakang. Walau rambutnya memutih
semua dan wajahnya sedikit berkeriput, pria itu memiliki badan yang segar.
Tinggi, tegap dan sedikit berisi. Ia adalah Tuan Smith, asisten Ayah di
perusahaan LUNAR. Pembicaraan mereka tampak santai, beberapa kali Tuan Smith
menepuk pundak Saka seperti berusaha menenangkan dirinya. Aji tahu Saka tampak
begitu terpukul dengan kepergian Ayah, ia juga berasumsi tadi malam mungkin Saka
tidak tidur gara-gara hal itu. Garis hitam samar di bawah mata Saka membuat Aji
berpikir begitu. Meskipun ia tahu Saka berusaha menyembunyikan perasaan-nya di
depan orang-orang, Aji tahu tabiat Saka yang memiliki gengsi tinggi apalagi
soal emosi.
Ia
kemudian melirik kearah Arnes, “Tidak jika kau perhatikan secara seksama, aku
mempunyai tahi lalat di dekat bibirku sedangkan Saka tidak”, ucapnya.
Arnes
tertawa spontan dengan lirih, “Tentu aku tidak memperhatikan itu, kurasa kita
baru pertama kali bertemu”
“Ah
iya, kau benar”, kata Aji sambil menoleh kearah Arnes. Ia kemudian mengulurkan
tangan, “Aji Chanandra, senang bertemu denganmu”, ia menjabat tangan Arnes.
“Arnes
Sitompul, aku juga senang bisa bertemu denganmu secara langsung. Aku banyak
mendengar ayahmu bercerita tentangmu”, kata Arnes.
“Oh
ya? Apa yang menarik dariku sampai dia menceritakan banyak hal kepadamu?”
Arnes
tersenyum, “ Dia berkata kau adalah orang yang rajin dan pintar. Ada banyak
hal, tapi dia paling sering mengatakan hal itu”
Aji
mengangguk sambil tertawa kecil, “Tentu saja, karena dia yang mengajariku untuk
berbuat begitu”
“Sungguh?
Dia ayah yang baik kalau begitu”
Aji
menghela nafas, “Yah, seperti itulah. Ada banyak hal yang dia ajarkan. Dia
hanya melakukan tugasnya sebagai ayah, seperti ayah pada umumnya bukan?”
Arnes
mengalihkan pandangan lalu menarik tangan-nya dengan perlahan. Ia tersenyum
tipis sambil memunduk, melihat kearah makam Sang Chandra.
“Seperti
ayah pada umum-nya... kurasa begitu”, ucap Arnes lirih.
Aji
terdiam, apakah barusan ia salah berucap? Ia mendapati tingkah Arnes yang
tadinya penuh ceria mendadak menjadi sedikit suram. Nada bicaranya berbeda
dengan yang tadi. Lebih rendah dengan intonasi yang melambat. Ia melihat mata
Arnes tampak berkaca namun Arnes berusaha menahannya dengan menggigit bibir
bawah.
“Jika
Ayahku adalah sosok ayah juga bagimu, maka tak apa bila kau anggap aku
saudaramu”, ucap Aji spontan.
Arnes
membelalak menatap kearah Aji. Ia menunjukan ekspresi kebingungan kemudian.
Aji
tersentak, “Ah! Apa yang barusan kukatakan? Maaf, baru saja mencampurkan
persepsiku. Mungkin itu salah. Maafkan aku”, ucapnya gelagapan.
Arnes
menggelengkan tertawa sambil tertawa pelan, “Tidak, kau benar, dia seperti ayah
bagiku.”, menghela nafas setelah itu, “Dan tak kusangka waktu berlalu sangat
cepat untuknya...”
Kami
terdiam saling bertatapan sementara angin sepoi berhembus dengan pelan, membuat
bunga di sekitar mereka berterbangan kearah utara dimana angin membawa.
Arnes
kemudian membalikkan badan tanpa mengucap sepatah kata lagi. Ia melangkah
dengan sepatu hak hitam-nya menuju kearah sebuah mobil putih.
Hari
ini aku bertemu dengan wanita yang selalu ayah bicarakan. Dia bermata bulat
seperti bulan dengan bulu mata yang lentik. Kulitnya hitam seperti susu coklat
yang biasa menyambutku di pagi hari....
Ia
menoleh kearahku dan tersenyum tipis sebelum masuk kedalam mobil berjenis sedan
dengan motif cat titik hitam di pintu.
Bibirnya
merah muda pastel seperti warna buah peach....
Mobil
itu melaju pelan kemudian, meninggalkan pemakaman dan menyusur ke jalan raya
yang cukup lenggang.
Aku
harap aku bisa berbicara lebih lama dengan-nya, tetapi hari ini rasanya aku
tidak ingin bertemu siapa pun, berkata apapun ataupun sekedar basa-basi.
“
Aji! ”
Sebuah
suara mengejutkanku, seorang pria tiba-tiba menghampiri. Ia mengenakan setelan
jas hitam yang sengaja ia buka kancing atasnya. Rambutnya hitam kecoklatan
dengan bola mata coklat terang seperti serigala.
Dia
adalah Josef, salah satu keturunan dari marga Voorneman. Marga terdekatku,
kerabatku dan dia adalah sahabatku.
“Aku
turut berduka...”, ia meraih tangan Aji lalu menggenggamnya erat. Kemudian ia
mendekapnya, menepuk halus pundak Aji, “Kau pasti sangat sedih”
“Terimakasih,
Josh... Tapi aku sungguh tidak apa-apa”, Aji mendorongnya pelan lalu melempar
senyum tipis.
“Dom!
Jangan bertingkah sok kuat, kau tahu aku bisa merasakan bagaimana rasanya
kehilangan seorang ayah”, Josef mengguncang bahu Aji, “Kau lupa yah kemarin aku
juga baru saja kehilangan ayahku! Jangan mencoba berbohong kalau kau baik-baik
saja”
Aji
menghela nafas lalu mengangguk, “Iya Josh, aku mengerti kau mengkhawatirkanku”
Ia
memegangi kepalanya yang tidak sakit. Kemudian merogoh kedalam sakunya dan
mengeluarkan sebatang rokok.
“Mag
het? ” ,tanya Josef sebelum ia mematik korek api nya. *Mag
het? = Apakah boleh?
“Tentu
saja, silahkan”
Ia
menyalakan rokoknya lalu menghembuskan asap tipis perlahan dari bibir. Mulutnya
sibuk mengapit dan mengisap sigar.
Aku
tak percaya Josef dan diriku memiliki nasib yang similar. Ayah kami dibunuh
dengan cara yang sama, ditembak di bagian kepala antara tengah alis. Seolah
pembunuh itu tepat berada di depan sang korban dan langsung menembakkan peluru
mereka kearah kepala korban. Aku bertanya-tanya, mungkinkah pembunuhnya adalah
orang yang sama? Dan jika iya, untuk apa dia melakukan hal itu? Orang suruhan,
bisa jadi...
“Kau memikirkan sesuatu?”, tanya Josef
tiba-tiba.
Aji
tertegun dan terdiam sejenak. Belum sempat Aji menjawab, Josef sudah menyela-nya
terlebih dahulu,
“Aku
tahu apa yang kau pikirkan”, ucap Josef.
“Apa?”, Aji bertanya dengan nada datar.
Josef
mengisap rokok-nya lalu menghembuskan dengan perlahan. Matanya memejam seakan
menikmati sensasi dari rokok Sterling yang beraroma mint itu. Kemudian
ia mendekatkan bibirnya kearah telinga Aji.
“Rumah
Bordil Taisho?”, bisiknya.
Aji
mendorong Josef dengan tatapan terkejut. Pipinya merah padam seperti menahan
amarah sementara Josef tertawa lirih karena guyonan-nya sendiri.
“Tidak
sekarang, Josef!”, Aji menggeram. Ia membalikan badan dan melangkah
meninggalkan Josef tanpa berkata apapun lagi. Guyonan Josef menurutnya tidak
lucu sama sekali apalagi jika diucapkan di suasana yang seharusnya duka seperti
ini.
Rumah
Bordil Taisho adalah tempat kesukaan Josef untuk menghibur diri. Ungkapan itu
biasa Josef katakan jika Aji tengah mengalami hari yang buruk. Josef biasa
mengajak Aji kesana walaupun Aji tidak terlalu suka tempat itu. Berbeda dengan Josef,
Ia sama sekali tidak tertarik dengan pelacur wanita. Hanya saja, sake yang
disediakan disana memang sangat enak. Itulah yang membuat Aji betah hanya demi
sake Taisho.
Josef
mengusap air matanya yang keluar sedikit akibat tertawa, “Astaga tentu saja..”,
ia terdiam sejenak lalu dengan nada sedang berkata, “Apakah tidak aneh jika
ayah kita sama-sama mati ditembak di kepala?”
Aji
menghentikan langkah-nya, menoleh kebelakang kearah Josef.
“Aji,
tentu saja aku tak benar-benar ingin membahas rumah bordil. Itu hanya guyonan
agar kau tidak terlalu bersedih...”, Josef menggaruk-garuk kepala sambil
terkekeh.
Aji
membalikkan badan, “Guyonanmu malah membuatku kesal”, Ia menatap dingin kearah
Josef.
Josef
melangkah mendekat kearah Aji, “Temanku, kau tahu aku memang seperti ini,
Maafkan aku”, Ia lalu menepuk bahu, “Tapi sungguh, apakah kau tidak menaruh
rasa curiga tentang kematian yang sama dan beruntun ini?”
Aji
terdiam menatap Josef. Nafasnya seperti tertahan.
“Tentu
saja aku curiga”.
“Bagus,
lalu berarti apakah ayah kita dibunuh oleh orang yang sama?”
“Bisa
jadi”, Aji menjawab datar.
“Untuk
apa?”
Lagi-lagi
Aji terdiam. Ia terlihat berfikir sejenak. Belum sempat Aji menjawab Josef
sudah membuka mulut besarnya itu,
“Bravo!
Tepat sekali”, Josef bertepuk tangan dengan pelan, “Apakah kau berpikiran bahwa
ada perebutan kekuasaan disini? Seperti Game Of Thrones? Menarik sekali jika
ada konspirasi perebutan kekuasaan di kota Deville yang melibatkan pembunuhan
terhadap dua petinggi sekaligus. Walikota dan wakil walikota, lalu siapa yang
akan menjadi walikota selanjutnya? Apakah sang pembunuh atau sang dalang
dibalik ini?”
“Bagaimana
jika itu hanya sebuah kebetulan kalau ayah kita mati dengan cara yang sama?”,
Aji melipat tangan-nya, “Kurasa kita tak perlu berpikiran ekstrim seperti itu”
Wajah
Josef yang tadinya ceria mendadak menjadi datar seperti tanpa emosi,
“Kau
naif sekali”, Ia kemudian menggeleng-gelengkan kepala, “Jika kau berpikiran
bahwa Deville mencintai kita, kau salah. Dan jika kau berpikiran bahwa kita
aman di Deville, itu sangat salah.”
Aji
tersenyum miring, “Tentu aku tidak naif. Aku hanya mengujimu, Josef”, ia
kemudian menoleh kekiri dan kekanan untuk memastikan suasana disekitar mereka
begitu sepi, “Tetapi pagi ini aku menemukan seorang gelandangan menuliskan
sesuatu yang sepertinya berkaitan dengan kematian ayahku”.
Josef
membelalak, “Oh ya? Menarik”.
“Aku
hanya ingin tahu siapa gelandangan ini. Kudengar kau berteman baik dengan
Renjo, si mafia penguasa gelandangan. Apakah kau bisa membantuku? Kurasa
‘mataku’ berhasil menangkap suatu momen”.
Aji
memperlihatkan pupil mata sebelah kanan-nya yang terlihat sedikit berbeda
warna. Ia seperti mengenakan sesuatu di lensa matanya.
“Astaga,
apakah kau menggunakan alat itu setiap saat?” , ucap Josef
Aji
mengangguk, “Kamera ini cukup membantuku untuk menangkap hal-hal yang mungkin
tidak sempat ditangkap. Tapi sepertinya aku masih harus menyempurnakan alat
ini, karena jika terkena cahaya akan terlihat jelas warna mata kanan-ku sedikit
lebih terang”, ia kemudian mengedipkan matanya beberapa kali, “Saka membantuku
dalam membuat alat ini”
“Ah,
saudaramu itu memang tidak mudah ditebak. Tak kusangka dia yang kukira maniak
hukum, masih mau memikirkan hal yang memang berkaitan dengan keluargamu. Sains
dan teknologi, kau tau?”
“Dia
memang maniak hukum, itulah mengapa ia memilih menjadi pengacara daripada
mengikuti jejak keluarga kami. Padahal bayangkan saja berapa uang yang bisa
dihasilkan saat kita bergabung dan
mengembangkan perusahaan LUNAR”
Josef
tertawa, “Aku tidak menyayangkan hal itu jika aku jadi kau. Bukankah seru jika
kau mempunyai saudara yang sangat kritis seperti Saka? Perbedaan kalian itu
justru menyatukan. Aku berharap kau tidak menganggap Saka sesuatu yang berbeda
dan siapa tahu juga jika Lunar mengalami sedikit kontroversi perusahaan, tentu
kau bisa menyewa adimu sebagai pengacara gratis”.
Aji
mengangkat alisnya lalu menggeleng, “Tidak, tentu saja tidak. Hanya saja aku
masih sedikit terkejut dengan keputusan-nya”, ia menghela nafas “.Dan lagi
akhir-akhir ini aku merasa hubungan kita tidak sedekat dahulu. Kulihat dirinya
benar-benar berbeda”
“Orang
berubah, kau tahu? Itu hal yang umum terjadi”
“Aku
tahu...”
“Sayang
sekali sekarang aku tengah terburu-buru. Aku turut berduka atas kepergian
ayahmu. Kita bertemu besok lagi, oke?”, ucap Josef sambil menepuk pundak Aji
lalu melenggang pergi.
Aji
hanya menatap langkah sahabatnya itu yang perlahan lenyap diantara deretan
mobil terparkir.
***
“Pria
itu, siapa namanya?”
“Josef.
Josef Voorneman”
“Begitu...”,
Tuan Smith menyalakan korek apinya lalu mulai merokok, “Aku jarang berinteraksi
dengan keluarga Voorneman, tak kusangka Josef sudah sebesar itu”.
Saka
hanya mengangguk lalu diam. Dalam hati Ia tak tertarik untuk berbicara dengan
Tuan Smith. Tidak, Ia tidak membenci Tuan Smith hanya saja hari ini perasaan
Saka tengah kacau.
“Sayang
sekali, ayahmu adalah orang yang sangat baik. Aku tak menyangka Ia pergi
secepat ini, sangat mengejutkan bukan?”
“Tentu
saja. Siapapun akan terkejut mendengar kabar kematian dari seseorang yang
selama ini kelihatan baik-baik saja, kau tahu?”, Saka menggigit bibir bawahnya
lalu mengadahkan kepala keatas. Matanya berlinang.
Tuan
Smith menepuk pundak Saka, “Tak usah ditahan seperti itu, nak. Aku turut
berduka”, Ia kemudian merangkul Saka.
Saka
hanya mengangguk sambil mengusap air matanya yang menetes, mengalir membasahi
pipinya. Ia memang dikenal sebagai pria yang tegar dan berwatak tangguh,
menangis bukanlah kata yang sering terlihat di kehidupan Saka. Saka hidup
terlalu keras sampai lupa bagaimana caranya menangis, namun kali ini Ia
menangis disamping makam ayahnya. Itu menandakan bahwa Ia begitu kehilangan
sosok yang penting dalam hidupnya.
“Anak
ini masih sama seperti dulu ya? Kau ingat kan dahulu sering merengek menangis
ketika Ayahmu hendak pergi dinas untuk waktu yang lama?”, Tuan Smith mengusap
rambut Saka.
“Ya,
tapi sekarang dia pergi untuk selama-lamanya”, Saka hanya tersenyum tipis.
Tuan
Smith merangkul Saka sembari menatap makam Galuh Chanandraka. Ia kemudian
mendongkak keatas ketika tetes hujan jatuh tepat diatas hidungnya.
“Saka,
aku tahu ini sedikit sembrono. Tetapi apakah kematian Ayahmu bisa jadi
berkaitan dengan rentetan kasus yang tengah terjadi?”
Saka tertegun lalu membelalak kearah Tuan Smith.
Tuan Smith menurunkan pandangan, melihat kearah bola mata Saka yang sedikit
memerah.
Tuan
Smith menghela nafas, “Tertembak tepat di tengah kepala, bukankah sama dengan
kematian Henry Voornemann”.
“Aku...”
“Bukankah
ini sesuatu yang harus diusut?”
Saka
terdiam lalu menatap Tuan Smith dengan alis mengkerut, “Mengapa Tuan Smith
begitu yakin jika ini adalah rencana dari seseorang? Pembunuhan ini, semuanya.
Mengapa kau begitu yakin?” Tanya Saka.
Tuan
Smith tertawa lirih. Ia menghela nafas lalu menoleh ke sekitar, tampaknya
memastikan tak ada orang yang berada terlalu dekat dengan mereka.
“Apapun
bisa terjadi, aku tahu kau anak yang
cerdas Saka. Pasti ada rasa curiga dalam dirimu mengapa dua petinggi Deville
dibunuh dalam waktu singkat bersamaan, Voorneman dan Ayahmu. Tak mungkin
beruntun dalam waktu singkat. Dan lagi banyak yang ingin merebut Deville,
merebut LUNAR dari tangan Chanandraka”,
kata Tuan Smith.
Saka
hanya terdiam, terlihat mecerna perkataan Tuan Smith.
“Tapi
kau tenang saja Saka, LUNAR aman di tanganku sekarang. Jika saudaramu akan
menggantikan posisi Ayahmu pun, Ia akan aku pastikan aman”.
Lalu
Saka mengernyit curiga, “Kau bisa berkata Lunar aman di tanganmu, tapi mengapa
kau tidak bisa membuktikan perkataan itu pada Ayahku?”
Tuan
Smith berdehem dan tersenyum, “Aku tidak menyangka Ia juga akan dibunuh. Kukira
apa yang terjadi pada Voorneman hanya sebuah aksi radikal dari para gangster
awalnya, tapi ketika Ayahmu turut dibunuh ini bukan menjadi aksi radikal lagi.
Pasti ada sesuatu terencana dibalik ini entah siapa dalangnya”.
“Kau
punya suspek akan dalangnya?”
Tuan
Smith mengangkat bahu. Ia kembali melihat sekitar kemudian mendekatkan bibirnya
kearah telinga Saka, “Seseorang yang tidak boleh disebutkan namanya tapi kau
tahu siapa”.
Saka
membelalak, Ia kemudian menatap Tuan Smith. Saka tahu siapa yang dimaksud Tuan
Smith, seorang pimpinan mafia tertinggi di Kota Deville yang ditakuti bahkan
oleh polisi. Bukan karena badan-nya yang tinggi, besar, dan berpawakan seperti
orang Meksiko, tetapi karena anteknya sangat banyak bahkan sampai diluar
Deville.
“Tigor...”
Saka berbisik lirih.
Tuan
Smith mengangguk, “Sudah lama Ia mengincar posisi Deville, sudah menjadi
rahasia umum Ia juga bergabung dengan sebuah partai politik dan memberi banyak
uang kepada Dewan. Dia banyak uang, banyak akal, dan banyak koneksi penting.
Jika dugaanku benar ini memang rencana-nya, maka akan sulit menaklukan apa yang
Ia ingin rencanakan”.
“Lalu
tentang perkataanmu melindungi LUNAR, bagaimana itu akan aman jika ini semua
berhadapan dengan rencana Tigor?”
“LUNAR
akan tetap aman aku yakin, disamping itu kita punya lebih banyak uang daripada
Tigor. Kita bisa membayar bahkan tentara bayaran termahal sekalipun untuk
menghancurkan Tigor. Perlu lebih dari sekedar aksi pembunuhan atau radikal
untuk menghancurkan LUNAR. Kurasa ambisinya lebih untuk merebut Deville
daripada LUNAR, kebetulan Ayahmu juka seorang petinggi Deville dan mungkin itu
alasan Ia dibunuh. Ia tidak mengincar LUNAR, Saka. Ia mengincar Deville”.
“Lalu
mengapa kita tak menyewa tentara bayaran untuk membunuhnya? Sewa saja kalau- “
“Saka,
cukup. Ini semua hanya teori, kita tidak tahu apakah memang benar Tigor yang
merencanakan ini. Bisa jadi bukan, hanya spekulasi. Dan lagi tugasku hanya
melindungi LUNAR, bukan Deville”.
Saka
menahan nafas lalu menghembuskan dengan kasar. Tuan Smith benar, ini hanya
teori. Tanpa sadar Saka terbawa dan
mempercayai begitu saja teori itu. Tigor memang mafia kelas atas, tapi bukan
berarti Ia pelakunya.
“Kau
benar, maafkan aku Tuan Smith akan nada bicaraku yang meninggi tadi”, ucap
Saka.
Tuan
Smith tersenyum, “Tak apa, aku tahu”, Ia kemudian merangkul bahu Saka dan
mengelusnya pelan.
BERSAMBUNG KE ACT 2: SEBUAH KASUS...
only shallow - My Bloody Valentine
Komentar
Posting Komentar