ANI YANG GEMAR MENANTI

 

ANI YANG GEMAR MENANTI

Karya oleh Alvisha

 

Malam pukul tujuh di Stasiun Purwokerto, Ani duduk sembari menerawang kearah papan kerlap-kerlip bertuliskan jadwal kedatangan sepur. Jaketnya Ia kancing sampai leher, kedua tangan mengatup sambil sesekali digesek satu sama lain. Kakinya bergoyang kekanan kekiri hampir seperti orang menggigil. Matanya sayu seperti tidak tidur semalaman, ada garis hitam dibawah mata.

Diluar angin bertiup membawa hujan sampai menggoyang pohon. Guntur sesekali menyambar, terkadang hanya bergemuruh, terkadang keras seperti bunyi petasan mercon. Hawa dingin masuk, menusuk tubuh Ani walau seberapa rapat Ia sudah mengancing jaketnya. Tetapi badan-nya teguh, tak sedikitpun Ia sandarkan walau matanya beberapa kali meminta Ani untuk tidur. Terkantuk-kantuk dirinya.

Kalau bertanya tentang apa yang ditunggu oleh Ani, maka dijawab Ani sedang menunggu sepur dari Yogyakarta―Purwokerto. Mungkin hatinya akan tenang ketika lagu ‘Ditepinya Sungai Serayu’ berkumandang sayup entah beberapa menit lagi. Mungkin kaki gelisahnya akan diam ketika Ia melihat gerbong putih Singasari berhenti walau Ia hanya bisa melihat dari batas ruang tunggu.

Kini Ani berdiri. Dirinya mondar-mandir karena bosan. Sesekali Ia mengigit jari, tetapi lebih sering merapikan rambutnya yang ikal seperti model penyanyi tahun 70-an. Berkaca lewat ponsel, menata rambut, lalu matanya yang penuh penantian itu menoleh kearah rel kereta. Seperti dirinya sangat berharap melihat badan Singasari berhenti dan membuka gerbongnya, maka dari sekumpulan orang yang turun itu mata Ani akan mencari. Ia mencari akan seorang insan yang sudah lama dinanti sejak empat tahun lalu.

“Sedang menunggu siapa, Mbak?”

Ani menoleh, seorang remaja wanita yang mungkin tak jauh umur dengan-nya menodongkan mata kearah Ani. Remaja itu memiliki mata yang sama seperti Ani walau sedikit lebih sipit, mata yang tengah menanti. Ani tahu itu karena dibalik matanya yang menyungging senyum, pupil matanya menatap kosong. Itu berarti pikiran-nya menerawang entah kemana. Kalau berkata memikirkan hutang atau masalah bisnis, sepertinya tidak. Kebanyakan yang Ani lihat di ruang tunggu ini adalah para insan penanti.

“Teman saya...”, Ani menjawab pelan.

Ia kemudian duduk disamping remaja itu. Pandangan mata masih belum Ia alihkan dari rel kereta. Masih mengharap munculnya Singasari.

“Hanya teman? Apakah sangat akrab karena kau terlihat gelisah begitu?”

Ani terdiam. Ia menatap Si Remaja Bermata Sipit lalu mengangguk. Kemudian pandangan kembali Ia arahkan kearah rel kereta yang masih kosong melompong.

Sebenarnya Ani berbohong, yang Ia nanti lebih dari sekadar teman. Yang Ia nanti sebenarnya adalah Sang Pujaan Hati. Dan yang Ia nanti bisa dikatakan separuh hidup Ani.

Lalu ingatan Ani membayangkan masa lalunya bersama Arie, Sang Pujaan Hati. Arie seorang pria yang memiliki mata yang indah dipandang. Matanya teduh jika menatap Ani. Matanya penuh simpatik dan kasih sayang. Jika Ani sedih, mata Arie berkaca. Oh, kalau Ani bertemu Arie yang Ia bayangkan pertama tentu saja tatapan Arie sendiri. Alisnya tebal, warna pupil kecoklatan, dan pandangan-nya penuh keteguhan. Hanya ketika berada dengan Ani, pandangan mata Arie yang garang menjadi teduh. Ani merasa spesial dengan padangan itu.

Kemudian Ani meraba tangan-nya sendiri. Dirinya kembali bernostalgia. Disaat terakhir kali Ani bertemu Arie dahulu, Ani menitipkan surat dalam sekotak hadiah penuh makanan. Ada surat perpisahan tentu saja atau mungkin isinya seluruh tumpahan akan perasaan Ani kepada Arie.

Arie datang menjelang tengah hari, wajah memerah karena kepanasan sehabis berkendara. Mereka hanya berpandangan lama seakan tak mau melepas satu sama lain. Terkadang saling mengobrol, tetapi ngalor-ngidul tidak jelas seperti dipaksakan untuk saling berbincang. Ani masih mengingat Arie banyak berucap dengan intonasi bergumam. Canggung, namun Arie lalu berani mengatakan bahwa dirinya akan pergi keluar kota dan hengkang dari tanah Purwokerto. Saat itu perasaan Ani campur aduk, yang Ia kira hanya sekadar pergi sebentar menuntut ilmu ternyata memindahkan rumah juga ke Jogja. Walau bibir Arie beberapa kali mengucap janji akan kembali menemui Ani, entah akan mengajak Ani jalan-jalan mengintari Purwokerto atau mengajak makan di Baturaden, Ani seakan tak mendengarkan. Telinganya pengang mendengar itu. Pikiran-nya membayang akan sangat sulit untuk bertemu Arie lagi atau bisa jadi tak bertemu sama sekali. Keraguan dihati Ani akan janji Arie tentu menyimuti relung diri.

Namun Arie teguh pada janjinya bahkan mengulurkan tangan, menyalami tangan Ani. Ani masih ingat genggaman erat itu, makin kuat isyaratnya akan keberatan Arie untuk berpisah. Ani masih ingat tangan hangat Arie yang walau saat itu dilapisi dengan sarung tangan tebal.

“Jaga dirimu baik-baik ya...”

Oh, suara itu masih menghantui telinga Ani.

Ani menepati janjinya untuk menjaga diri. Tak sekalipun dirinya disentuh oleh lelaki lain. Bahkan Ia menolak berbagai pria yang mendekati dirinya. Di usia Ani yang menginjak 28 tahun ini bukan tidak mungkin tak ada yang mencoba meminang. Apalagi Ani sudah mapan, punya pekerjaan, dan lulus dari kampus ternama. Pria mana yang tidak tertarik dengan Ani? Sudah cantik, badan bagus seperti gitar Spanyol, mapan pula. Tetapi Ani benar menutup hatinya untuk Arie. Ia berjanji tak akan mencari siapapun meskipun nanti yang digenggam Arie bukan Ani lagi. Ani sudah dimabuk cinta oleh Arie dan sepertinya benar-benar mabuk.

 

***

30 menit berlalu tetapi Singasari masih belum terlihat batang hidungnya. Suasana ruang tunggu perlahan sepi, orang-orang telah bertemu dengan yang dinanti termasuk Si Remaja Bermata Sipit tadi.

Ani mengusap leher, matanya berkaca. Sedari tadi Ia menahan sesak karena sangat merindukan Arie. Ia sangat berharap jika Arie keluar dari gerbong, Arie akan langsung menyadari dirinya. Menatap Ani dengan mata itu lalu menggenggam tangan Ani lagi meskipun hanya sekedar bersalaman. Oh, terlihat sangat indah.

 

Akhirnya setelah sekian lama menanti, lagu ‘Ditepinya Sungai Serayu’ berkumandang. Suara rem mesin kereta terdengar bebarengan dengan suara decitan roda besi.

Ani terperanjat, matanya membulat sumringah. Sebuah gerbong putih bertuliskan ‘Singasari’ telah tiba di Stasiun Purwokerto.

Itulah dia yang dinanti, itulah Singasari yang sedari tadi Ani tunggu-tunggu kehadiran-nya.

Ani berdiri sambil menggenggam tangan. Dirinya melihat pintu-pintu gerbong dibuka, tangga diturunkan, dan orang-orang mulai keluar. Matanya bergerak kesana kemari mencari yang dinanti.

Mencari di sela-sela para insan yang membawa koper besar, atau mungkin Arie terhalang oleh ibu-ibu tinggi yang menggendong anaknya, atau mungkin Arie keluar paling terakhir.

Ani terus mencari, matanya yang tadi mengantuk seakan terbangun kembali. Walau pinggiran mata sudah memerah dan pedih seperti habis mengucek dengan tangan bekas kena cabai, Ani tetap membuka matanya untuk menelusuri keberadaan Arie.

Makin lama, makin lengang orang yang turun tetapi keberadaan Arie tidak Ani temukan.

Ani panik, Ia nyalakan ponsel dan mengecek pesan singkat yang terkirim kepada Arie.

Nihil. Arie tidak menjawab bahkan tanda terkirim sudah bercentang dua biru. Artinya Arie sudah membaca pesan Ani.

Benak Ani penuh pikiran rancu. Ia menerka-nerka mengapa Arie tak terlihat dan pesan singkatnya tidak dijawab walau sudah dibaca. Apakah Arie memang sengaja menghindari dirinya? Mengapa Ia tak menjawab pesan? Dia bilang pukul tujuh lebih akan sampai di Purwokerto, ini sudah lewat hampir jam delapan tetapi mana batang hidungnya? Tidak kelihatan sama sekali!

Ani lemas, dirinya terduduk dan menatap lantai. Nafasnya berat, air mata menetes mengalir ke pipi. Sementara itu Singasari telah menutup gerbongnya lagi, bersiap untuk pergi.

Oh, mungkin hanya Ani yang berharap Arie akan datang untuk dirinya lagi. Mungkin hanya Ani yang selama ini menunggui Arie dan selalu menanti kehadiran Arie.

Ani berpikiran Ia sangat salah menanti Arie. Arie mungkin sekarang mengabaikan Ani yang bahkan sudah lama menunggu dari pukul tujuh tadi.

“Aku ini terlalu berharap ya?” Ani bergumam kemudian terisak.

Ia bangkit lunglai seperti orang teler kemudian berjalan dengan langkah gontai. Kakinya yang mengenakan sepatu kets Ia seret-seret sepanjang perjalanan menuju pintu keluar.

Matanya bengkak, celaknya hampir luntur. Rambutnya Ia biarkan acak-acakan.

Setiap mata yang dilewati Ani memandang. Mereka seakan tahu bahwa wanita ini tengah berada di titik paling pilu. Wajah yang memucat, langkah seperti mayat hidup, dan dada kembang kempis. Astaga, siapapun simpatik melihat Ani dalam keadaan seperti itu.

***

Sekarang lagu ‘Ditepinya Sungai Serayu’ tak terdengar lagi.

Ani mencapai pintu keluar. Dirinya menatap kosong kearah suasana malam sekitar Stasiun Purwokerto. Hujan tak lagi merintik deras, hanya meninggalkan gerimis kecil walau guntur masih bergemuruh.

Tukang ojek terlihat mangkal, mereka menikmati kopi dan rokok di tepian parkiran.

Ani menghela nafas, Ia melangkahkan kaki kearah kumpulan para tukang ojek.

Bubar sudah, tidak ada kisah romantis malam ini. Arie entah sudah pulang atau bagaimana, Ani tidak peduli. Hatinya amat sakit ketika Ia merasa diabaikan oleh Arie. Insan yang Ani nanti dan tunggu selama ini ternyata hanyalah sebujur mimpi. Ani mengutuki diri, menganggap dirinya wanita paling apes karena menanti Arie.

Tetapi yang tak Ani sadari adalah Ani terlalu cepat mengambil spekulasi.

Seorang pria datang dengan wajah yang tertutup masker putih memegang payung dan berdiri di disamping Ani. Ia mengangkat payung tinggi, berusaha memayungi badan Ani yang jangkung.

Ani terhenti langkahnya, Ia menatap tangan yang memayungi dirinya.

Mata Ani membulat, bibirnya terkatup. Ani tahu tangan yang putih bersih itu. Ani hafal tangan yang punya bekas luka kemerahan di jempolnya.

“Neng, sendirian aja?”

Ani menoleh kearah pria yang ada disampingnya. Oh, suara itu!

“Arie?!”

Pria itu menurunkan masker, menyungging senyum di wajahnya.

“Halo”.

Ani memeluk Arie dan terisak hebat. Ia menangis sejadi-jadinya, meruntuhkan seluruh kerinduan yang Ia pendam selama ini. Meluruhkan seluruh tekadnya untuk jarang berkabar demi saling menjaga diri. Ani benar-benar meruntuhkan diri di hadapan Arie. Ia kalah dengan rasa rindu yang begitu hebat. Melihat Arie di hadapan-nya begini, hati Ani seakan mencelos gembira.

Arie menepuk lembut pundak Ani. Ya, Arie tahu tentang Ani yang menanti dirinya. Tentu Arie tahu Ani memang amat cinta kepada Arie. Ia sangat paham bahwa Ani merindukan dirinya seperti bintang merindukan bulan.

“Kau kemana saja? Mengapa baru terlihat?” Ani bertanya di sela tangisnya.

Arie meringis, “Maaf, aku ke toilet tadi”.

Arie berkata seolah tak terjadi apa-apa. Beberapa menit setelah turun, memang Ia diserang rasa tak tertahankan yang berguncang di perutnya. Tentu tak bisa balik lagi ke kereta, terpaksa mencari toilet terdekat dan berdiam diri disana.

Sebenarnya Arie merasa bersalah karena membuat Ani khawatir seperti itu. Oh, dada Arie sedikit sesak melihat Ani menangis bersimbah di hadapan-nya.

“Aku menunggumu, tahu...”

Ani mengendurkan pelukan lalu mengusap wajahnya. Ia menutupi muka dan berusaha sekuat tenaga agar menahan tangis.

“Dan aku sangat merindukanmu...”

Arie menatap iba. Ia kemudian membuka bibirnya tapi tertutup lagi. Jakun-nya terangkat seakan ingin mengucap beberapa patah kata namun lidahnya sangat kaku bahkan untuk meneguk ludah. Arie akhirnya hanya menatap Ani. Bahkan kedua tangan Ia katupkan tak bergerak. Ia tahu betul dirinya juga merindukan Ani.

Arie lalu mencopot topi yang Ia kenakan kemudian meletakan-nya diatas kepala Ani. Dalam gerakan-nya Ia berbisik,

“Aku juga merindukanmu...”

Komentar